Mengenal Jenis-Jenis Bahan Pakaian (Bisnis Laundry : Bag 2)

Mengenal Jenis-Jenis Bahan Pakaian (Bisnis Laundry : Bag 2) | usahakreatif.net –

Sebelumnya :

Sebagai pelaku bisnis laundry kiloan, Anda sebaiknya harus mengenal jenis-jenis bahan kain dan memberikan pengetahuan ini kepada karyawan Anda.

Hal ini sangat penting karena beda jenis kain, beda pula teknik pencucian, pengeringan dan penyetrikaanya.


Mengenal Jenis-Jenis Bahan Pakaian (Bisnis Laundry)

Mengenal Jenis-Jenis Bahan Pakaian

Berikut ini jenis-jenis bahan kain yang banyak beredar di pasaran Indonesia :

1. Acrylic

Acrylic merupakan jenis kain berbahan serat sintetis. Biasa dikenal juga dengan nama dagang Acrilian, Cashmilon, Orlon, Vonnel dan lainnya.

Secara umum sifatnya mirip dengan wol. Jika dipegang, acrylic terasa lembut ringan dan merupakan isolator panas yang dapat menahan panas tubuh namun tidak menyebabkan gatal pada kulit.

Pencucian dapat menggunakan sabun biasa dan tahan terhadap bahan kimia dry cleaning serta pelarut organik lainnya.

Acrylic sangat peka terhadap panas, bisa menyebabkan kain menjadi penyok. Jadi gunakan penyetrikaan hangat saja.

2. Aramid

Aramid terbuat dari serat sintetis yang banyak digunakan pada pakaian pemadam kebakaran atau pembalap. Aramid termasuk jenis nylon dan sangat tahan terhadap api dan suhu tinggi. Dapat terbakar pada suhu 53 C.

3. Katun/Cotton

Kain katun adalah jenis kain rajut (knitting) yang berbahan dasar serat kapas. Mirip dengan kain Polyester, namun bisa dibedakan dengan cara membakarnya. Kain katun akan berbau seperti kertas atau kayu dibakar, sedangkan polyester akan beraroma seperti plastik terbakar.

Keunggulannya :

  • Tidak kisut apabila dicuci
  • Tidak luntur untuk bahan berwarna
  • Mudah disablon
  • Menyerap keringat
  • Tidak berbulu

Kelemahannya :

  • Bahan terasa dingin dan sedikit kaku
  • Mudah kusut
  • Pakaian/kain akan rusak jika direndam lebih dari 2 jam dalam detergen
  • Rentan terhadap jamur

Jenis-jenis kain katun :

#1. Katun Jepang
Katun jepang adalah istilah untuk jenis bahan yang terbuat dari combed 100% full cotton, jadi apabila ada yang mengkategorikan bahan CVC adalah bahan katun jepang sebenarnya salah.

#2. Katun Paris Motif
Katun Paris Motif hampir sama dengan katun jepang dalam beberapa hal yaitu : memiliki kode warna pada kain, daya serap keringat bagus, harga relatif lebih mahal, wanra dan permukaan kain sama dengan katun jepang. Perbedaannya adalah kain katun paris lebih tipis dibanding katun jepang. Biasa digunakan untuk blouse wanita.

#3. Katun Paris Polos
Katun jenis ini sebenarnya hampir sama dengan katun biasa, hanya saja lebih tipis. Tidak memiliki kode warna dan biasanya digunakan untuk blouse wanita dan bahan kerudung.

#4. Katun Silk/India/Zada
Katun jenis ini ada 2 jenis, yaitu tipis dan tebal. Ciri-cirinya permukaan kain lebih mengkilap, harga sedikit lebih mahal dari katun biasa, namun tidak semahal katun jepang. Memiliki daya serap keringat rendah, warna kilapnya awet meskipun sering dicuci.

#5. Katun Minyak
Kain katun ini sama dengan katun lainnya, hanya saja permukaanya terkesan berminyak (kilapnya berbeda dengan katun silk). Harga sama dengan katun biasa, daya serap keringat lumayan bagus. Kilap akan berkurang setelah beberapa kali pencucian.

#6. Katun Biasa
Motifnya macam-macam, polos, garis, kotak, bunga atau abstrak. Harga relatif lebih murah, tidak ada ciri khusus seperti kode warna. Daya serap keringat sedang hingga bagus, tergantung persentase bahan katunnya. Warnanya awet meskipin masih di bawah katun jepang.

#7. Katun Kombed/Cotton Combed
Katun kombed merupakan kain katun yang diproduksi dengan finishing disisir (combed) dengan tujuan agar serat-serat kapas halus dapat dipisahkan. Sehingga kain yang dihasilkan lebih halus dan tidak berbulu. Kain katun kombed tersedia dalam 2 ukuran, yaitu 20s dan 30s. Kain jenis ini biasa digunakan untuk bahan kaos distro.

Katun kombed 20s adalah kain katun kombed yang terbuat dari benang berukuran 20s. Begitu juga dengan 30s. Kain katun kombed 20s lebih tebal dari 30s, sehingga kain katun 30s lebih lemas dari 20s.

#8. Katun Karded/Cotton Carded
Katun karded tidak disisir pada proses finishingnya, sehingga masih terdapat serat-serat kapas halus yang tersisa sehingga harganya lebih murah dari katun kombed. Umumnya digunakan untuk kaos dengan target pasar kelas menengah ke bawah. Meskipun tekstur kurang halus, tetapi tetap nyaman dipakai karena terbuat dari 100% serat kapas alami, dapat menyerap keringat dan tidak panas.

#9. Teteron Cotton/TC
Bahan kaos ini terbuat dari jenis serat campuran, yaitu cotton combed 35% dan polyester 65%. Memiliki karakteristik kurang menyerap keringat dan agak panas. Lebih tahan kusut dan tidak melar meskipun dicuci berkali-kali. Biasa digunakan untuk bahan sprey, hem dan celana.

#10. Cotton Viscose/CVC
Bahan kaos ini terbuat dari serat campuran cotton combed 55% Viscose 45%. Memiliki tingkat susut lebih kecil dari cotton dan dapat menyerap keringat.

4. Denim

Denim adalah bahan pembuat jeans. Jenis kain ini akan memberikan kesan rapi dan formal apabila warnanya semakin gelap daripada berwarna terang, akan terlihat lebih kusam.

5. Drill/Twill

Kain drill memiliki permukaan kain yang terlihat bergaris diagonal, permukaan kain bagian depan dengan belakang berbeda serta tenunannya lebih rapat.

Kain drill lebih lembut dan tahan kusut. Biasa digunakan untuk seragam kerja untuk kemeja lapangan, mekanik, sales dan berbagai jenis celana dan jacket.

6. Hyanget

Bahan hyanget terbuat dari plastik namun lebih tipis. Banyak digunakan untuk keperluan bahan spanduk karena harganya yang sangat murah.

7. Jersey

Bahan jersey merupakan bahan kain yang terbuat dari tekstil rajutan yang terdiri dari serat katun seluruhnya atau dicampur dengan serat sintetis.

Ciri dari bahan jersey merupakan kain katun strech, halus namun lebih tebal jika dibanding kain spandex rayon dan tidak berbulu.

Bahan kain jersey saat ini banyak digunakan desainer pakaian muslimah untuk memberikan bermacam model busana muslim yang syar’i.

8. Cahsmere

Nama cashmere memang diambil dari nama kota Kasmir, India. Karena bahan dari kain ini terbuat dari bulu kambing yang banyak terdapat di Kasmir.

Kain kasmir memiliki warna dasar hitam, cokelat dan putih. Namun dengan melalui beberapa proses, kain cashmere bisa memiliki waran beragam.

Bahan ini tergolong mewah dan memiliki kualitas yang bagus. Harganya pun sangat tinggi.

Semakin sering dicuci, bahan ini menjadi semakin halus. Namun mencucinya harus menggunakan shampoo.

9. Linen

Linen lebih kuat dari bahan katun, cocok untuk casual wear dan dress. Cirinya bahan terasa dingin, menyerap keringat dan sangat nyaman dipakai.

Namun bahan linen sangat mudah kusut dan berkerut sehingga perlu perhatian ekstra saat mencuci seperti pemilihan detergent yang lembut dan direndam pada air bersuhu hangat (bisa dilihat pada label pakaian).

10. Lacoste

Kain lacoste adalah jenis bahan yang biasa digunakan untuk membuat kaos polo dan berkerah.

11. Lycra

Lycra merupakan merek dagang bahan spandex yang nyaman karena mengandung katun, sutera, polyster atau bahan sistetis lainnya.

Lycra cenderung tidak mengkilap, bisa melekat ketat di tubuh karena sifatnya yang lentur. Bahan ini bersifat ringan, elastis, menyrap keringan dan nyaman dipakai. Jika dicuci akan cepat kering dan tahan terhadap bakteri, sinar UV dan khlorin (cairan pemutih).

Lycra banyak digunakan untuk pakaian dalam, baju renang, baju atletik dan lain-lain.

12. Leahter dan Suede

Seperti namanya, bahan kain ini terbuat dari kulit, baik itu kulit buaya, kerbau, sapi, katak, ular dan lainnya. Namun ada juga yang sintetis (buatan).

Semua jenis bahan kulit membutuhkan perawatan khusus seperti menyimpan ditempat yang kering agar tidak berjamur, menjaga kelembaban bahan agar kulit tidak pecah serta jangan dijemur di matahari langsung.

13. Lotto

Dengan tekstur yang tidak mengkilat, lembut dan sangat elastis, bahan ini banyak digunakan sebagai bahan kaos olah raga. Memiliki ketebalan bahan yang sama dengan bahan katun.

14. Paragon

Jenis bahan paragon memiliki karakter susah menyerap keringat, tekstur kain terlihat sedikit mengkilap dan fleksibel apabila dipakai.

Bahan ini biasa digunakan untuk pembuatan kaos olahraga misalnya pada olahraga basket.

15. Nylon (Polymade)

Biasa juga dikenal dengan perlon, trilobal atau antron, rislan, nomex dan lainnya. Terbuat dari bahan serat sintetik dan dapat menimbulkan listrik statis.

Tahan terhadap jamur, bakteri dan serangga. Namun memiliki daya serap keringat yang rendah.

Dapat dicuci dengan sabun alkali dan pencucian kimia (dry cleaning). Perlu kehati-hatian pada saat mensetrika, karena bahan nylon tidak tahan terhadap panas yang terlalu tinggi. Bisa lengket pada suhu 180 C dan meleleh pada suhu 250 C.

16. Polyester

Berbahan dasar dari benang polyester yang merupakan serat sintetis atau buatan dari hasil minyak bumi. Kain ini memiliki tingkatan dibawah bahan katun.

Memiliki tekstur yang mirip dengan katun, namun jika dibakar akan menghasilkan bau seperti plastik terbakar dan segera menjadi arang.

Kekuatan bahan dari serat polyester terhadap lekukan dan kekusutan membuat bahan ini tidak perlu disetrika dengan suhu yang panas. Namun memiliki daya serap yang rendah dan kekakuannya tinggi sehingga mengurangi kenyamanan.

PE memiliki harga yang relatif murah, namun memiliki kekurangan yaitu pada beberapa jenis PE untuk bahan kaos, kain ini rawan kisut dan apabila dicuci mudah luntur, namun tahan terhadap pelarut organik dan pencucian dry cleaning.

Jenis PE untuk bahan sweater, biasanya berbulu setelah beberapa kali dicuci. Dikenal dengan nama dagang Terylene, Dacron, Trivera, Tetoron.

17. Cathionic Dyeable Polyester

Jenis serat sintetik yang merupakan modifikasi dari serat polyester sehingga dapat dicelup dengan zat warna.

18. Diadora

Bahan ini sangat mirip dengan bahan Lotto, namun lebih lembut tekturnya dan memiliki kualitas yang lebih baik.

19. Lightweight Wools

Seperti bahan wool namun lebih ringan dan tetap hangat.

20. Rayon Viscosa

Rayon Viscosa adalah serat semi sintetik yang bahan bakunya berupa kayu yang mempunyai kadar selulosa tinggi sehingga mempunyai kenyamanan pemakaian yang sangat baik pada berbagai kondisi.

21. Polysnosic

Sejenis rayon viskosa namun dengan derajat polimerisasi yang lebih tinggi. Memiliki struktur mikro fibril dengan panjang rantai molekul dua kali lipat dari rayon. Karakteristiknya dapat dicuci dengan sabun atau detergen dan pelarut organik bahkan pencucian kimia/dry-cleaning. Disetrika dengan suhu sedang.

22. Pike/Pique

Sama seperti kain Lacoste/Adidas. Biasa dibuat untuk membuat kaos polo/kerah/wangki.

23. Rayon Asetat

Termasuk dalam serat semi sintetik yang mempunyai elastisitas yang baik, namun tidak cukup untuk memberikan ketahanan kusut yang baik.

Rayon Asetat biasa digunakan sebagai kain pelapis. Pencucian dapat dilakukan dengan sabun alkali dan dry cleaning.

Penyetrikaan kain asetat dilakukan dengan menggunakan setrika hangat dan tidak langsung.

Rayon asetat tahan terhadap mikroorganisme dan serangga tetapi tidak tahan terhadap jamur terutama pada kondisi lembab.

24. Satin

Kain satin memiliki permukaan rata dan licin serta berkilau karena sifatnya yang bisa memantulkan cahaya. Bagian belakang kain satin terlihat suram. Tenunannya rapat namun kurang kuat karena float-nya panjang sehingga mudah putus jika ditarik.

25. Rajut/Knit

Sesuai namanya, kain ini dibuat dengan jeratan-jeratan benang atau mengaitkan benang dengan benang, sering disebut merajut.

Ciri kain ini dapat ditarik dan elastis.

Contoh kain rajut misalnya jersey, interlock, rib, single jersey, tricot dan lainnya.

26. Serena

Bahan ini hampir mirip dengan bahan paragon, sukar menyerap keringat, memiliki tekstur kain yang terlihat mengkilat dan fleksibel. Dari segi kualitas dan kenyamanan, masih dibawah paragon. Serena biasa digunakan untuk pembuatan kaos team sepakbola.

27. Sifon/Chiffon

Kain sifon adalah bahan yang sangat lembut, halus, transparan dan jatuh mengikuti bentuk badan. Karena sifatnya mengikuti bentuk tubuh, kain ini cocok digunakan sebagai selendang, veil (hijab) atau pelengkap kebaya lainnya.

28. Spandex

Lebih dikenal dengan nama Lycra yang merupakan trademark dari Du Pont. Mempunyai sifat elastisitas yang tinggi, kuat dan memiliki ketahanan gosokan yang tinggi. Spandex adalah jenis serat sintetis yang memiliki elastisitas lebih baik dari rubber.

29. Sutra/Silk

Jenis kain ini merupakan jenis kain alami yang terbuat dari kepompong ulat sutra. Sutra dikenal memiliki harga yang mahal dengan penawaran kenyamanan yang istimewa.

Jenis-jenis kain sutra :

#1. Silk Tafeta
Kain ini memiliki karakteristik mengkilat dan kaku sehingga terkesan mewah jika dipakai.

#2. Raw Silk
Karakteristik dari kain rawsilk ini mengkilat karena 100% sutra dengan tekstur yang tidak rata (berserat) seperti cacat produksi, ada benang yang keluar dari tenunan, padahal itu ciri khasnya.

#3. Thai Silk
Karakteristik dari kain thai silk ini mengkilat dan tidak kaku, sehingga nyaman dipakai dan terkesan mewah.

#4. Japan Silk
Karakteristiknya mirip dengan thai silk, hanya kainnya lebih lembut dan lebih mahal.

#5. Dupon Silk
Mirip dengan Raw Silk, hanya agak kusut dan tipis

#6. Dupioni Silk
Lebih tebal dari dupion silk, dengan tekstur dan corat seperti hujan gerimis. Harga lebih mahal dari dupion silk namun lebih nyaman jika dipakai.

#7. Nep Silk
Karakteristik dari kain ini mirip seperti sifon, hanya saja bercorak dan bertekstur garis-garis.

#8. Paper Silk
Karakter dari kaini ini tipis, mengkilat dan kaku seperti kertas. Permukaan kainnya halus, ringkih dan seperti mudah sobek

30. Viscose

Terbuat dari kayu sejenis pohon pinus. Kelenturannya sangat sesuai dengan berbagai model busana pesta, casual wear, lingerie, underwear dan jacket.

Ciri-ciri viscose terasa lembut dan dingin di kulit, bahannya jatuh tidak kaku dan memiliki permukaan mengkilat. Mudah menyerap keringat.

Bahan mudah rusak jika direndam dengan detergen lebih dari 1 jam, bisa dicuci atau di dry clean.

31. Moven

Kain ini terbuat dari hasil penyilangan dua benang dengan teknik tenun atau dianyam. Cirinya kain woven ini tidak elastis, tidak dapat ditarik.

Itulah jenis-jenis bahan kain yang banyak beredar di pasaran Indonesia.

Tips Mencuci Agar Pakaian Tidak Mudah Luntur Dan Pudar

Untuk memuaskan pelanggan, tentu kita tidak ingin pakaian mereka terkena luntur ataupun memudar, berikut ini tips agar pakaian tidak mudah luntur ataupun pudar.

Baca Simbol Pada Pakaian

Pada tiap-tiap pakaian akan terdapatkan label kecil, dimana pada label tersebut berisikan simbol-simbol yang akan menuntun kita dalam merawat pakaian agar awet, tidak pudar dan tahan lama.

Pakaian Warna Gelap

Untuk pakaian berwarna gelap semisal hitam, cokelat serta maroon, sebaiknya jangan direndam menggunakan detergen, karena pakaian berwarna gelap pada umumnya mudah luntur. Jangan menggabungkannya dengan pakaian berwarna cerah, karena warna lunturnya bisa menempel pada pakaian berwarna cerah.

Proses penjemuran sebaiknya dibalik, yaitu bagian dalam pakaian berada di posisi luar, hal ini disebabkan karena warna gelap lebih banyak menyerap panas sehingga membuat warnanya cepat pudar.

Jangan Penuhi Mesin Cuci

Ketika menggunakan mesin cuci, jangan terlalu penuh. Cara tersebut memang akan menghemat waktu sebab tak harus mencuci berkali-kali. Namun hal itu bukanlah cara yang benar, mencuci terlalu penuh justru akan membuat kinerja mesin cuci tidak maksimal. Sehingga hasil cucian pun tak akan maksimal.

Gunakanlah Deterjen yang Tepat.

Penggunaan deterjen bisa membuat warna pudar dan ada pula deterjen yang dapat membuat warna pakaian tetap awet serta terjaga. Bacalah label pada pakaian dan label pada deterjen, sebab tiap-tiap deterjen berbeda fungsi untuk jenis pakaian apa saja deterjen tersebut digunakan.

Teknik Menjemur.

Untuk mencegah pakaian luntur, tidak hanya cara mencucinya saja yang di perhatikan, namun cara menjemurnya pun harus diperhatikan. Menjemur pun ternyata bisa berpengaruh terhadap awet tidaknya warna pakaian. Jangan menjemur pakaian terlalu lama, sebab akan membuat pakaian menjadi bau matahari dan juga akan mengurangi warna serta kualitas pakaian.

Cuci Pakaian Dengan Air Dingin.

Ada beberapa jenis pakaian yang dibuat dari bahan tertentu yang memang direkomendasikan untuk dicuci dengan air panas maupun air hangat. Namun untuk berjaga-jaga saja, untuk pakaian berwarna sebaiknya dicuci menggunakan air dingin agar warnanya lebih awet.

Pakai cuka.

Menambahkan cuka pada proses pencucian bisa membuat warna pakaian tetap cerah dan awet. Meskipun bau cuka terasa tak mengenakan, tetapi bau tersebut akan menghilang ketika proses pembilasan. Cuka juga bisa dijadikan pelembut pakaian alami.

Hal di atas hanya berupa tips saja, boleh dilakukan boleh juga tidak.

Demikian artikel Mengenal Jenis-Jenis Bahan Pakaian (Bisnis Laundry : Bag 2).

Selanjutnya :

admin

Seorang fulltime blogger. Bercita-cita menjadi netpreneur sejati dan mengelola bisnis secara online sehingga bisa meningkatkan quality time bersama keluarga.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *